Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Ternyata Semut Juga Bisa Tentukan Skala Prioritas Tanpa Adanya Intervensi

Saat dihadapkan pada beberapa pilihan, manusia biasanya menentukan skala prioritas sebelum mengambil keputusan. Penentukan skala prioritas ini, ternyata juga dilakukan oleh semut. Para peneliti di Arizona State University menemukan semut bisa melakukan strategi membuat keputusan berdasarkan pengalaman mereka.


Peneliti Taka Sasaki dan Stephen Pratt mempelajari perilaku semut selama beberapa tahun. Sasaki menerapkan teori dan eksperimen psikologi -yang sebenarnya didesain untuk manusia- pada semut. Target mereka adalah mengetahui bagaimana proses pengambilan keputusan dilakukan oleh semut.

"Manusia bisa membuat keputusan. Semut ternyata juga bisa, tapi mereka melakukannya secara kolektif," kata Sasaki. Hasil penellitian mereka dipublikasikan dalam jurnal Biology Letters.

Dalam studinya, Sasaki dan Pratt meletakkan koloni semut temnothorax rugatulus pada dua sarang dengan kondisi berbeda. Pada sarang pertama, pintu masuknya punya beberapa ukuran sementara yang lain pencahayaannya  dimanipulasi. Para semut itu memilih pintu masuk berukuran kecil dan pencahayaan redup.

Dalam kondisi itulah para semut menentukan prioritasnya. Ini dilakukan karena mereka punya pilihan dalam sarang dengan bagian yang gelap dan terang serta pintu masuk yang besar dan kecil.

"Mirip ketika manusia akan membeli rumah, ada banyak pilihan untuk dipertimbangkan mulai dari ukuran, jumlah kamar, lingkungan, harga dan sebagainya," kata Pratt.

Karena mustahil menemukan habitat yang sempurna, semut membuat pertimbangan berdasarkan kualitas tertentu dalam sarang. Namun saat hanya diberi dua pilihan sarang, semut menunjukkan kecerdasannya dalam memilih dengan membuat prioritas.

Semut yang memilih sarang dengan cahaya terang tidak mempedulikan ukuran pintunya. Sementara semut yang memilih pintu masuk kecil cenderung menyukai tempat remang-remang.

"Ada ratusan semut di sana, dan entah bagaimana mereka bisa mencapai konsensus. Bagaimana mereka melakukannya tanpa ada pemimpin yang memberi perintah," kata Pratt.

Dalam hal ini Pratt menganalogikan individu semut seperti neuron dalam otak manusia. Neuron berperan penting dalam pengambilan keputusan tapi tak ada yang tahu bagaimana setiap neuron mempengaruhi keputusan.

Sasaki dan Pratt berharap bisa mengungkap peran semut secara individu dalam mempengaruhi koloni.

"Penelitian ini membantu kami paham bagaimana keputusan kolektif bekerja dan sangat berbeda dengan pengambilan keputusan individual. Manusia bisa membuat keputusan kolektif, semut pun bisa," kata Pratt.


Sumber :
tempo

Misteri Penyebab Air Panas Lebih Cepat Membeku Terungkap?

Misteri Penyebab Air Panas Lebih Cepat Membeku Terungkap?
Sebagian besar orang sudah mengetahui bahwa air panas lebih cepat membeku ketimbang air dingin. Namun bagaimana fenomena ini terjadi telah menjadi misteri selama bertahun-tahun.

Dikenal sebagai efek Mpemba, air berperilaku tak seperti kebanyakan cairan lain dengan membeku lebih cepat dan padat dari keadaan panas dibandingkan suhu kamar. Para ilmuwan telah mengajukan puluhan teori mengapa hal ini mungkin terjadi. Tetapi, tidak ada yang mampu memberikan penjelasan memuaskan.


Kini, sekelompok fisikawan dari Nanyang Technological University, Singapura, percaya bahwa mereka  mungkin telah memecahkan misteri tersebut. Para ilmuwan ini mengklaim bahwa penjelasan terletak pada interaksi tak biasa antara molekul-molekul air.

Setiap molekul air terikat dengan molekul air lainnya melalui ikatan elektromagnetik yang dikenal sebagai ikatan hidrogen.

Seperti diketahui ikatan hidrogen mempengaruhi titik didih suatu senyawa. Pada air, terjadi dua ikatan hidrogen di setiap molekulnya sehingga titik didih air lebih tinggi ketimbang asam florida.

Dr Sun Changqing dan Dr Xi Zhang dari Nanyang Technological University berpendapat bahwa hal ini juga menentukan bagaimana molekul air menyimpan dan melepaskan energi.

Mereka menilai, tingkat di mana energi dilepaskan bervariasi dengan keadaan awal air dan air panas dapat melepaskan energi lebih cepat ketika ditaruh dalam lemari pendingin.

"Proses dan laju pelepasan energi dari air bervariasi intrinsik dengan keadaan energi awal dari sumber," ujar Dr Changqing seperti dilansir laman Telegraph.

Pekan lalu, Dr Changqing dan Dr Zhang menerbitkan sebuah makalah di jurnal Scientific Reports yang menunjukkan bagaimana molekul air mengatur diri mereka sendiri ketika membentuk es. Keduanya juga menerbitkan sebuah makalah tentang arXiv Chemical Physics yang menjelaskan efek Mpemba .

Mereka mengatakan bahwa interaksi antara ikatan hidrogen dan ikatan kuat yang memegang atom hidrogen serta oksigen dalam masing-masing molekul bersama -dikenal sebagai ikatan kovalen- adalah yang menyebabkan efek Mpemba.

Biasanya ketika cairan dipanaskan, ikatan kovalen antara atom meregang dan menyimpan energi. Namun kedua ilmuwan ini berpandapat bahwa pada air, ikatan hidrogen menghasilkan efek tak biasa yang menyebabkan ikatan kovalen memendek dan menyimpan energi saat dipanaskan.

Hal ini, ujar mereka, mengarah kepada bahwa ikatan melepaskan energi dengan cara yang eksponensial dibanding jumlah awal yang tersimpan ketika didinginkan dalam lemari pendingin. Dengan demikian, air panas akan kehilangan energi lebih cepat ketimbang air dingin.

"Saat didinginkan di lemari pendingin, ikatan H-O melepaskan energi pada tingkat yang eksponensial tergantung pada energi awal yang disimpan dan karena itu efek Mpemba terjadi," kata Dr Changqing.


Sumber :
viva.co.id

Anak Laki-laki lebih Pintar Matematika Karena Tidak Takut Salah

Anak Laki-laki lebih Pintar Matematika Karena Tidak Takut Salah
Tinggi rendahnya kemampuan akademis anak bisa dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah didikan orangtua yang membentuk karakteristik anak itu sendiri.

Karena anak laki-laki seringkali dididik secara tegas, tak heran jika mereka dikenal lebih mampu menyelesaikan soal matematika dibandingkan dengan anak perempuan.


Apa kaitannya? Studi yang dilakukan University of Missouri, AS ini mengemukakan bahwa di sekolah, anak perempuan dan anak laki-laki menggunakan pendekatan yang berbeda untuk mengatasi masalah aritmetika.

Anak perempuan cenderung menyelesaikan masalah dengan pendekatan yang lambat namun akurat sebaliknya anak laki-laki mengatasinya dengan pendekatan yang lebih cepat namun rawan mengalami kesalahan.

Tentu saja pendekatan anak perempuan dalam hal ini memberinya keuntungan pada masa awal sekolah, namun pada akhir kelas 6, anak laki-laki terbukti bisa melampaui hasil belajar anak perempuan.

"Perbedaan akurasi aritmetika diantara anak laki-laki dan perempuan mungkin timbul dari adanya kemauan untuk mengambil risiko kesalahan dengan menjawab persoalan matematika hanya berdasarkan kemampuan daya ingatnya," kata peneliti Drew Bailey seperti dilansir dari medindia.


"Dalam studi ini, kami menemukan bahwa dibanding anak perempuan, anak laki-laki lebih suka langsung mengungkapkan jawabannya sesaat setelah diberi persoalan, meskipun mungkin kurang akurat. Namun dari waktu ke waktu, praktik mengingat jawaban ini bisa mendorong anak laki-laki jauh melampaui anak perempuan dalam hal akurasi jawaban," tambah Bailey.

Peneliti mendapatkan kesimpulan ini setelah mengamati sekitar 300 anak-anak sejak kelas 1 hingga menginjak kelas 6 sekolah dasar.

Saat berada di kelas 1 dan 2, kecenderungan anak laki-laki untuk memberikan jawaban secara cepat menunjukkan bahwa secara total anak laki-laki lebih banyak memberikan jawaban ketika diberi persoalan aritmetika namun jawaban yang salah juga lebih banyak.

Di sisi lain, anak perempuan lebih banyak memberikan jawaban yang benar namun cenderung merespon persoalan secara lebih lambat dan soal yang bisa dijawab pun lebih sedikit.

Meski begitu, saat menginjak kelas 6, anak laki-laki jauh lebih banyak memberikan jawaban dengan tingkat kesalahan yang lebih sedikit.

"Mengembangkan kemampuan matematika itu bisa dibagi ke dalam dua cara yaitu 'practice makes perfect' dan 'perfect makes practice'."

"Artinya mencoba menjawab lebih banyak pertanyaan dengan menggunakan daya ingat mendorong pengambil risiko untuk lebih banyak berlatih sehingga lama-kelamaan akurasi jawabannya akan membaik."

"Begitu pula dengan anak-anak yang sudah punya keterampilan dalam strategi tertentu akan terdorong untuk lebih banyak menggunakan strateginya itu sehingga butuh lebih banyak praktik," terang Bailey.

Studi ini telah dipublikasikan dalam Journal of Experimental Child Psychology.


Sumber :
detik.com

Ternyata Otak Bersihkan Penyakit Saat Pemiliknya Tidur

Ternyata Otak Bersihkan Penyakit Saat Pemiliknya Tidur
Sebuah riset di AS menunjukkan bahwa saat mahluk hidup sedang tidur, otaknya justru bekerja membersihkan bibit-bibit penyakit yang ada di dalam tubuh.

Kesimpulan penelitian ini diperoleh ketika ilmuwan dari University of Rochester Medical Center, New York AS mendeteksi pembersihan penyakit pada otak tikus yang tidur. Ternyata otak tikus yang tidur lebih baik dalam memerangi penyakit daripada saat terjaga.


Dilansir USA Today, peneliti memasukkan suatu zat yang terbentuk dari penyakit Alzheimer, dan terbukti tikus yang tidur mampu menghapus penyakit itu lebih cepat.

Tim peneliti juga memperhatikan, sel otak cenderung menyusut selama tidur untuk mendukung penghapusan jenis penyakit. Pasalnya, kondisi itu memperlebar ruang antara sel-sel yang memungkinkan penyakit dengan mudah dibuang melewati ruang sel.

Nah, meski uji coba dilakukan pada otak tikus, peneliti utama Dr Maiken Nedergaard mengatakan, metode ini pun dapat berlaku pada otak manusia. Nantinya, jika terbukti berhasil pada manusia, ini akan membuka babak baru dalam dunia pengobatan manusia yang menderita penyakit Alzheimer dan penyakit sejenisnya.

Temuan ini pun mendapat respons positif oleh ilmuwan lain. "Sangat mungkin jika tidur bisa memperlambat kerusakan yang lebih lanjut," jelas Dr Clete Kushida, direktur medis Stanford Sleep Medicine Center melalui surel.

Penelitian juga menyimpulkan orang yang tak mendapatkan waktu istirahat cukup akan mengalami kesulitan belajar, membuat keputusan, dan lamban dalam bereaksi.

Penelitian itu didanai National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Dalam sebuah pernyataan, Direktur Program lembaga itu, Jim Koenig mengatakan, penemuan itu dapat menjadi pendekatan baru untuk mengobati berbagai penyakit otak.


Sumber :
viva.co.id

5 Usaha Manusia Untuk Terus Hidup Abadi

Kematian adalah pasti, karena semua manusia atau makhluk hidup pasti menemui ajalnya. Namun, ada saja penelitian yang mencoba mengakali hal tersebut dengan memperbaiki sistem sel dalam tubuh.

Tidak hanya sekali atau satu kelompok saja, hingga saat ini, sudah banyak sekali penelitian yang dilakukan oleh organisasi mulai dari yang dibiayai pemerintah sampai yang dengan biaya sendiri atau swasta mencoba menguak misteri dari kematian.

Para ilmuwan percaya bahwa memang tidak dapat menghindari kematian, namun mungkin hilangnya nyawa tersebut dapat diakali dengan melakukan peremajaan sel atau sejenisnya langsung di dalam tubuh.

Dikutip dari Business Insider, berikut ada beberapa upaya manusia yang mencoba menguak mengakali kematian demi memperpanjang umur.


1. Nanotechnology


Ada upaya membuat tubuh menjadi terus muda dan sehat dengan cara menanamkan robot di dalam tubuh manusia. teknologi penanaman robot yang disebut juga dengan nanotechnology ini berfungsi untuk membuat manusia akan tetap segar bugar dalam jangka waktu yang sangat lama.

Robot tersebut bertugas untuk memperbaiki sel-sel yang rusak dalam tubuh, mencari dan mencerna pathogen serta menghancurkan bakteri, virus atau jamur dalam aliran darah.

Dengan upaya ini diharapkan manusia akan selamanya sehat dan muda. Para peneliti percaya bahwa kematian terjadi ketika sudah banyak sel di dalam tubuh manusia menua dan tidak berfungsi serta dikarenakan penyakit di dalam tubuh.


2. Kloning


Tentunya wacana kloning makhluk hidup bukan hal baru lagi sekarang ini. Untuk membuat seseorang "tetap hidup" maka diperlukan pengganti yang kembar identik dengannya.

Oleh karena wacana kloning ini diupayakan untuk tetap membuat seseorang selalu tergantikan dengan sosok baru yang sama setiap saat. Sampai saat ini, sudah ada beberapa kali uji coba kloning yang dilakukan terhadap hewan seperti tikus salah satunya.


3. Pil Pelawan Penuaan


Sebuah penelitian dan penemuan baru berhasil menciptakan pil yang revolusioner agar dapat membuat manusia yang meminumnya tetap selamanya energik, memiliki kulit yan tidak dapat keriput, kesehatan yang sempurna dan tidak memiliki pengurangan di sisi pandangan.


4. Modifikasi Genetika


Dengan melakukan modifikasi genetika, maka diharapkan manusia akan mendapatkan sesuatu yang baru di dalam tubuhnya seperti tetap muda dan tidak gampang terkena penyakit.


5. Cryonics


Cryonics adalah suatu cara yang dilakukan untuk menghindari kematian dengan menonaktifkan tubuh secara temporer. Cara ini dilakukan ketika seseorang sedang terkena penyakit atau sudah berusia tua, maka tubuhnya dibekukan dengan teknologi khusus.

Orang tersebut akan kembali dibangkitkan dari tidur panjangnya ketika "permasalahannya" itu sudah ditemukan jawaban atau obatnya.


Sumber :
merdeka.com

Membuktikan Keberadaan Tuhan Secara Ilmiah


Kita sebagai mahluk beragama dengan mudah bisa meyakini eksistensi Sang Pencipta bila melihat keselarasan, kemegahan, kesempurnaan proses biologis dan mekanisme setiap benda di alam ini.

Namun nyatanya tidak semudah itu. Tafsir kitab suci yang beragam, penyimpangan penganut agama memahami ajaran cinta yang dibawa para nabi, munculnya teori evolusi, serta penemuan arkeolog dan proses yang terjadi di alam semesta mengakibatkan manusia mempertanyakan kembali sosok Tuhan.




Terlepas dari utopia surga dan neraka, apakah pengetahuan bisa membuktikan bahwa pencipta ada? Jawabannya adalah ya. Banyak ilmuwan masih meyakini ada Dzat di balik penciptaan semesta ini.

Baru-baru ini dua ilmuwan, Christoph Benzm�ller dari Berlin Free University dan rekannya Bruno Woltzenlogel Paleo dari Technical University, Wina dikabarkan oleh media berhasil membuktikan dalil keberadaan Tuhan yang sebelumnya telah dipopulerkan matematikawan Austria, Kurt Godel, dengan menggunakan komputer Macbook.

Menurut duo ilmuwan ini, setelah menganalisis dalil Godel dalam tingkat matematika, dalil Godel bisa dibuktikan, setidaknya dalam tingkat pemahaman matematika. Keduanya membuktikan beberapa dalil dan aksioma dibuktikan dengan beberapa program pembuktian seperti THF TPTP, Nitpick, LEO-II dan Satallax, program pembantu pembuktian seperti Coq, Isabelle.

Seperti apakah dalil yang dicetuskan Godel?

Kurt Godel, matematikawan asal Checko kelahiran 28 April 1906 ini pernah mengeluarkan teori bahwa Tuhan bisa dibuktikan dengan dalil (decoded). Lima aksioma yang dituliskannya sebagai berikut:

1. "Properti" apapun, atau penyangkalan terhadap properti itu, adalah "positif"; tetapi tidak mungkin bahwa properti dan penyangkalan tersebut positif.

2. Jika satu properti positif  menyiratkan bahwa selalu ada beberapa properti, maka properti tersirat positif.

3. Properti tentang Tuhan (sesuatu yang seperti Tuhan; God-like) adalah positif.

4. Sifat-sifat properti yang positif hasilnya selalu positif.

5. Properti yang eksis selalu positif.

Catatan: Properti dalam KBBI: tanah milik dan bangunan, kepemilikan.
Maka properti bisa diartikan sesuatu benda yang ada dan kepunyaan pemiliknya.

G�del membuktikan teorema menengah dan salah satu akibat wajar dalam buktinya. Aksioma pertama, ia membawa kita pada kesimpulan "Properti positif mungkin eksis". Setelah menambahkan aksioma ketiga, Tuhan, atau "menjadi seperti Tuhan" memiliki kemungkinan yang eksis. Dengan bantuan aksioma keempat, G�del menyatakan bahwa "menjadi seperti Tuhan" satu inti dengan mahluk ciptaan "seperti Tuhan".

Setelah menambahkan aksioma akhir, G�del menyimpulkan: adalah sangat diperlukan bahwa Tuhan itu ada.

Untuk memahami kalimat Godel tentang "menjadi seperti Tuhan / God-like" Anda harus membuka wawasan, menyingkirkan sejenak emosi agamis yang langsung terpaku pada Tuhan itu Allah, atau Elohim, Yahweh, dan sederet nama lain misalnya.  Di kalangan ilmuwan, "menjadi seperti Tuhan"  berarti ada Dzat yang mencipta, dan manusia menyebutnya Tuhan.

Mungkin terjemahannya agak susah ke Bahasa Indonesia. Bagaimanapun, kesimpulan dari dalil Godel adalah Dzat yang mencipta alam semesta ini, kita sebut Tuhan, adalah eksis, ada.


Filsuf Euclid
Dalil Godel sesungguhnya telah dicetukan berabad-abad lalu oleh filsuf Yunani kuno dan matematikawan Euclid.



Euclid menawarkan kasus "paralel" yang menarik. Aksiomanya menyatakan bahwa ada hanya satu garis lurus, 'S', melalui titik tertentu 'G' yang tidak berada pada garis lurus 'L'. Sehingga garis 'S'  tidak pernah bersinggungan pada garis 'L'.

Euclid mendefinisikan "geometri" ini pada permukaan datar. Kelemahan aksioma Euclid adalah, bila diterapkan pada bidang bulat seperti bola akan memberi hasil berbeda. Karena itu Godel bisa dibilang memiliki dalil yang lebih sempurna, dan duo ilmuwan seperti disebut pada awal artikel bisa membuktikannya dengan bantuan komputer.








Referensi:
decodedscience.com
sas.uwaterloo.ca
math.stackexchange







Ilmuwan Berhasil Menciptakan Darah Buatan dari Ekstrak Cacing Laut

Ilmuwan Berhasil Menciptakan Darah Buatan dari Ekstrak Cacing Laut
Ilmuwan berhasil mengkreasikan darah buatan dari bahan garam mineral, air, dan protein hemerythrin yang diekstrak dari cacing laut.

Radu Silaghi-Dumitrescu dari Babes-Bolyai University di Cluj-Napoca berharap bahwa darah buatan itu bisa mencukupi permintaan darah dan mencegah penularan penyakit lewat transfusi.


Silaghi-Dumitrescu yang menciptakan darah buatan itu bahkan berangan-angan bahwa di masa depan mungkin akan ada produk darah instan. Darah instan itu layaknya kopi instan atau minuman kemasan sachet, bisa digunakan setelah dicampur dengan air.

Upaya Silaghi-Dumitrescu adalah suatu keberhasilan. Selama ini, usaha mengkreasi darah buatan selalu gagal karena senyawa yang dipakai tak tahan tekanan fisik dan kimia.

Silaghi-Dumitrescu memakai hemerythrin dari cacing laut karena dipandang lebih tahan tekanan daripada hemoglobin. Hemoglobin adalah protein darah yang berfungsi mengikat oksigen, membantu transfer oksigen ke setiap sel tubuh.


Darah buatan Silaghi-Dumitrescu telah diujicobakan pada mencit, dan hewan percobaan tak mengalami efek samping. "Mencit yang diuji coba dengan darah buatan 'Made in Cuj' tidak mengalami efek samping, dan ini yang kita inginkan," katanya seperti dikutip Softpedia.

Darah buatan ini diharapkan bisa menggantikan fungsi darah asli pada manusia selama beberapa jam atau mungkin sehari penuh.

Dalam jangka waktu tersebut, tubuh seseorang yang kehilangan banyak darah bisa menghasilkan darah yang cukup untuk menggantikannya lagi. Dalam satu hingga dua tahun ke depan, darah buatan ini akan diujicobakan pada manusia.


Sumber :
kompas.com

Koktail ART Sembuhkan Bayi dari AIDS

Bayi perempuan di Mississippi mengejutkan dunia kedokteran. Koktail (campuran) tiga obat menyembuhkannya dari virus HIV. Kisah ini berawal ketika sang bayi terdeteksi HIV dan dokter pun memberikan tiga koktail obat antiretrovial atau ART, yakni zidovudine, lamivudine dan nevirapine 30 jam setelah kelahirannya.

Seminggu kemudian, dokter memberikan obat jenis nevirapine sampai ritonavir-lopinavir. Namun, entah pasrah atau kekurangan biaya  sang ibu dilaporkan memutuskan untuk berhenti melakukan terapi saat balita berusia 15 bulan, bahkan sampai usia bayi 18 bulan ia tidak pernah mengambil obat ART lagi.
 



Lima bulan berselang, gadis kecil itu dibawa ke klinik untuk memeriksakan perkembangan virus ganasnya. Hasil tesnya mengejutkan. Tidak ada tanda-tanda virus pada sampel darahnya. Hasil tes itu kemudian dikonfirmasi lagi pada sampel darah untuk usia 24, 26, dan 28 bulan.

Pada sampel darah usia 24 bulan, sempat ditemukan salinan tunggal virus RNA, tapi tes ultra sensitif dua bulan kemudian gagal mendeteksi salinan virus itu. Artinya virus itu menghilang.

"Tes menemukan tak ada tingkat HIV-1 RNA yang terdeteksi dalam darahnya," ujar peneliti dalam laporan New England Journal of Medicine.

Ada sedikit keraguan di kalangan ahli medis. Beberapa dokter heran dan bertanya-tanya, apakah sang balita benar-benar mengidap HIV pada pertama kalinya.

 
 
Namun, laporan New England Journal of Medicine meyakinkan dengan banyak bukti, bahwa balita itu benar-benar terinfeksi virus sejak dalam kandungan. Saat sampel darah diambil 30 jam setelah kelahiran, terbukti darah balita itu terkandung HIV-1 DNA.

Para dokter juga membantah dugaan para ahli bahwa balita itu memiliki mutasi langka yang membuatnya kebal dengan virus.

"Dia tak memiliki mutasi langka. Pertumbuhan dan perkembangannya telah normal," jelas para dokter.

Semoga saja semakin terlihat perkembangan positif penanganan kasus HIV, dan makin banyak penderita bisa tertolong nyawanya. Diperkirakan sekitar 300.000 ribu bayi lahir terinveksi HIV  pada 2011.










 







Ilmuwan Temukan Cara Untuk Membangkitkan Orang Mati

Ilmuwan Temukan Cara Untuk Membangkitkan Orang Mati
Para ilmuwan memiliki gagasan tentang cara untuk menyadarkan seseorang yang sudah dinyatakan meninggal. Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan New York Academy of Science, menghadirkan Dr Sam Parnia dari State University of New York di Stony Brook, Stephan Meyer dari Columbia University, dan Lance Becker dari University of Pennsylvania.


Dalam pertemuan itu dibahas bahwa kunci penyadaran kembali atau resusitasi pada orang yang baru saja meninggal itu ialah proses hipotermia atau pendinginan tubuh dan pengurangan suplai oksigen.

Gagasan ilmuwan didasarkan pada pandangan baru tentang kematian. Sebelumnya, kematian didefinisikan sebagai saat di mana jantung sudah berhenti berdetak dan paru-paru berhenti bekerja sehingga individu tidak bernapas.

Dalam pandangan baru, kematian tidak dianggap sebagai peristiwa yang terjadi secara serentak di semua bagian tubuh, tetapi sebagai proses bertahap. Saat detak jantung dan napas individu terhenti, sel individu sebenarnya masih hidup.

Kematian total, kiranya bisa dikatakan demikian, baru terjadi ketika sel-sel otak kekurangan oksigen, akibat terhentinya jantung dan napas, sehingga rusak dan mengirim sinyal bagi sel-sel lain menjelang saat kematian.


Dalam gagasan ilmuwan, ada jeda antara henti jantung dan napas dengan kematian total. Jeda itu yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan tindakan sehingga orang yang sebelumnya dinyatakan telah mati bisa sadar kembali.

Proses tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Salah satu perhatiannya, upaya menyadarkan orang yang telah meninggal harus tidak mengakibatkan kerusakan otak akibat jantung yang berhenti menyuplai oksigen.

Diberitakan Huffington Post, kunci penyadaran kembali tanpa merusak jaringan otak salah satunya adalah hipotermia, yakni tubuh didinginkan beberapa derajat lebih rendah daripada suhu normalnya 37 derajat celsius.

Berdasarkan studi, hipotermia bisa mencegah kerusakan sel otak dengan menurunkan permintaan oksigennya. Namun, ini tetap ada batasannya. Ada momen ketika kerusakan memang sudah terlalu besar sehingga tak bisa dikembalikan.

Kemudian, setelah prosedur hipotermia dan jantung bekerja, kunci lainnya adalah menjaga suplai oksigen. Suplai oksigen yang tiba-tiba besar justru akan berdampak negatif karena akan merusak jaringan otak.


Hipotermia terbukti membantu prosedur resusitasi. Namun, bahkan di Amerika Serikat, tak semua rumah sakit menerapkan prosedur hipotermia. Hal ini menjadi keterbatasan untuk mengupayakan resusitasi yang berhasil.

Tentang suplai oksigen, Parnia menuturkan, suplai harus diatur dengan mesin agar jumlah oksigen yang dialirkan sesuai yang dibutuhkan.

Penyadaran kembali orang yang telah meninggal ini menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya, upaya menyadarkan kembali orang yang telah berjam-jam mengalami henti jantung berisiko pada kerusakan otak. Siapa yang kemudian bertanggung jawab melakukan proses resusitasi lebih komprehensif?

Mayer mengungkapkan, keterbatasan saat ini adalah pengetahuan tentang kerusakan otak. Ilmuwan belum mengetahui seberapa lama kerusakan bertahan dan apakah bisa dikembalikan ke kondisi semula.

Mayer mengungkapkan, masih perlu pembelajaran lebih lanjut. Namun, ia mengatakan bahwa ilmuwan juga tak bisa begitu saja mengatakan bahwa kerusakan otak tak bisa dikembalikan.

Sementara, Becker menuturkan, upaya penyadaran tidak selalu bisa dilakukan di setiap kasus. Namun, sekali dokter memutuskan, dokter harus menerapkan semua metode yang mungkin bisa dilakukan.


Sumber :
kompas.com

Udang Beracun Pertama di Dunia Bersembunyi Dalam Pintu Gerbang Neraka

Udang Beracun Pertama di Dunia Bersembunyi Dalam Pintu Gerbang Neraka
Speleonectes tulumensis, nama ilmiah dari seekor krustasea diyakini sebagai hewan yang memiliki racun untuk berburu. Krustasea meliputi hewan air yang berkulit keras, termasuk kepiting serta udang.


Dilansir Nature, hewan ini pernah dideskirpsikan tiga dekade lalu. Tersebar di seluruh Meksiko dan Amerika Tengah, hewan ini hidup pada habitatnya, di mana air terhubung dengan jaringan gua bawah tanah.

Menurut kepercayaan kuno suku Maya, jaringan gua bawah tanah tersebut merupakan pintu gerbang ke neraka. Ahli biologi menemukan bahwa kolam dengan jaringan gua bawah tanah itu merupakan rumah bagi makhluk hidup, yakni krustasea berbisa pertama di dunia.


Speleonectes tulumensis yang masuk dalam kelas remipedia (krustasea buta) pertama dijelaskan pada 1981. Meneliti hewan ini sulit, karena habitat alami mereka berada di jaringan gua labirin yang sulit ditelusuri oleh para penyelam .

Ahli biologi  Bj�rn von Reumont dan Ronald Jenner dari Natural History Museum di London menemukan spesies krustasea tersebut. Penelitian di 2007 menunjukkan struktur pada hewan dengan cakar yang menyerupai jarum suntik.

Ini memicu spekulasi awal bahwa cakar tersebut merupakan racun yang ditujukan untuk melumpuhkan mangsa. Penelitian lanjutan mengonfirmasi bahwa struktur jarum dikelilingi oleh otot yang dapat memompa cairan racun.


Sumber :
okezone.com

Temuan Unik, Ternyata Durasi Kencing Setiap Mamalia Itu Hampir Sama

Temuan Unik, Ternyata Durasi Kencing Setiap Mamalia Itu Hampir Sama
Sebuah riset unik mengungkap bahwa mamalia, terlepas dari ukuran tubuh dan besar kecilnya kantung kemih, punya waktu yang sama untuk membuang air kencingnya, yakni butuh 21 detik.

Patricia Yang dari Georgia Institute of Technology di Amerika Serikat seperti diberitakan New Scientist, memaparkan alasan di balik kesamaan yang tampaknya tak masuk akal tersebut.


Yang dan timnya merekam momen saat beragam mamalia, seperti tikus, anjing, kambing, sapi, dan gajah kencing. Mereka juga mencari berbagai video yang ada di situs Youtube untuk membantu.

Tim kemudian menganalisis video dan membandingkan dengan data ukuran kandung kemih, ukuran diameter dan panjang uretra atau saluran kencing, serta massa tubuh. Hasil analisis membuat tim menguraikan alasan di balik waktu kencing yang hampir sama antar-mamalia.

Gajah, menurut tim, memang memiliki kandung kemih dan volume air kencing yang lebih besar. Namun, mamalia itu mampu mengeluarkan urine dalam waktu yang sama dengan hewan kecil karena ukuran uretra yang besar dan panjang, berdiameter 10 cm atau sebesar pipa dan panjang 1 meter.

Ukuran uretra yang panjang membuat gajah menerima efek gravitasi lebih besar. Karena pengaruh gravitasi itu, air kencing bergerak lebih cepat. Hasilnya, kandung kemih juga lebih cepat kosong.

Hewan berukuran sedang, seperti anjing dan kambing, punya ukuran uretra lebih pendek dan kecil. Dengan logika sederhana, seharusnya kelompok hewan ini kencing lebih cepat, tapi temuan menunjukkan hal berbeda.

Anjing dan kambing juga punya waktu kencing sama dengan gajah. Sebabnya, ukuran uretra yang lebih kecil membuat gravitasi yang diterima juga lebih kecil. Akibatnya, air kencing bergerak lebih lambat.

Pada mamalia kecil, seperti tikus, gravitasi memainkan peran lebih sedikit. Keluarnya air kencing lebih banyak dipengaruhi oleh kekentalan dan tegangan permukaan. Hal itulah yang menyebabkan kencing pada hewan tersebut bukan berupa aliran tetapi tetesan.

Jadi, dari penelitian ini, kita bisa menyimpulkan bahwa waktu kencing mamalia dipengaruhi oleh beberapa hal, terutama ukuran kantung kemih, ukuran uretra, serta gravitasi. Ukuran tubuh tidak memengaruhi.


Sumber :
kompas.com

Wow, Ditemukan Pohon Ara Penambang Emas

Wow, Ditemukan Pohon Ara Penambang Emas
Para peneliti menemukan emas "tumbuh" di pohon-pohon para (gum trees) di Jazirah Eyre, di dekat kota kecil Wudinna, Australia Selatan. Penelitian digelar untuk menjelaskan fenomena tersebut.


Para peneliti dari lembaga ternama Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) mendapatkan bahwa butiran-butiran emas halus diangkut dari dalam tanah oleh akar pohon-pohon ekaliptus yang tumbuh di jazirah tersebut, kemudian tersebar di kulit pohon, daun, dan ranting-ranting pohon.

Emas ditemukan di pohon bukanlah barang baru untuk para ilmuwan. Namun, bagaimana butiran halus emas tersebut bisa sampai ke puncak pepohonan belum ada satu pun ilmuwan yang dapat menjelaskannya.

Dr Mel Lintern, pemimpin proyek penelitian akbar yang bernilai jutaan dollar Australia tersebut, mengatakan, hasil yang bisa didapatkan akan menghemat biaya eksplorasi perusahaan tambang. "Bila mereka bisa menerka isi perut bumi dari pohon dan tidak usah menggali, mereka akan menghemat banyak uang," tuturnya seperti dikutip surat kabar The Advertiser.  



"Aspek lain adalah cara ini lebih bersahabat terhadap lingkungan dibanding dengan membuat lubang yang besar," imbul Lintern. Melalui sinar X, para peneliti mendapatkan butiran emas mungil berdiameter seperlima dari sehelai rambut ada pada daun-daun pohon para.

Penelitian dilakukan di dua tempat, yaitu di Kalgoorlie di Australia Barat dan di Barns, sekitar 25 km dari Wudinna di Australia Selatan. Wudinna terletak sekitar 550 km di barat laut Adelaide, ibu kota Australia Selatan.

Lintern memutuskan melakukan penelitian setelah berkali-kali mengunjungi tempat-tempat itu selama delapan tahun. "Jumlah emas di pohon tersebut sedikit sekali," tuturnya. Dari sekitar 500 pohon, sebut dia, emas yang terkumpul hanya akan cukup untuk membuat satu cincin kawin.


Sumber :
smh.com.au
/ kompas.com

Peneliti Mengungkapkan, Bayi Mampu Deteksi Kebohongan

Peneliti Mengungkapkan, Bayi Mampu Deteksi Kebohongan
Bayi yang berumur mulai dari 18 bulan ternyata bisa mengetahui kebohongan seseorang. Bayi bisa mengenali perbedaan ekspresi wajah gembira yang asli atau cuma dibuat-buat.

Alih-alih ikut gembira, bayi malah akan menunjukkan empati terhadap orang yang tengah bersedih, meski orang itu berusaha memasang mimik lucu saat berhadapan dengannya.


Kemampuan unik bayi ini terungkap dalam penelitian Sabrina Chirella dan Diane Poulin-Dubois, dua psikolog asal Universitas Concordia di Montreal, Kanada. Mereka menemukan fakta bahwa bayi mampu mengenali perbedaan antara mimik wajah dan sikap yang ditunjukkan orang di sekitarnya. Bayi bisa merasakan jika ada perbedaan antara emosi dan reaksi yang muncul dalam konteks tertentu.

"Orang dewasa sering melindungi bayi dari situasi sulit dengan memasang mimik ceria, tapi bayi tahu hal sebenarnya," kata Poulin-Dubois seperti ditulis Sciencedaily. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal Infancy: The Official Journal of the International Society on Infant Studies.

Dalam studinya, Poulin-Dubois dan Chiarella mempelajari 92 bayi berusia 15 dan 18 bulan. Bayi-bayi itu diajak menonton seorang aktor yang memainkan beberapa skenario yang melibatkan reaksi emosi langsung dan melalui gerakan pantomim.

Pada satu skenario, para psikolog menunjukkan mimik sedih ketika diberi mainan yang diinginkan. Pada skenario lainnya, mereka menunjukkan mimik kesakitan saat berpura-pura mengalami luka di jari. 



Bayi berusia 15 bulan tidak menunjukkan reaksi berbeda pada dua skenario. Mereka sama-sama menunjukkan empati melalui mimik wajahnya kepada orang-orang yang mereka lihat tengah bersedih. Pada tahap ini kemampuan mereka untuk mengenali ekspresi wajah dan pengalaman emosional masih belum berkembang.

Lain halnya dengan bayi-bayi yang berumur 18 bulan. Mereka bisa mengenali ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan kejadian yang dialami. Bayi-bayi itu memandangi wajah para peneliti itu lebih lama lalu berbalik lebih sering melihat para pengasuhnya.

Menurut Poulin-Dubois, perilaku itu dimaksudkan untuk mengukur reaksi dari orang-orang yang mereka percaya. Buktinya, bayi-bayi itu malah menunjukkan empati ketika sudah mempercayai mimik sedih yang dilihatnya. Dan itu hanya terjadi ketika peneliti benar-benar berada dalam kondisi sedih atau mendapat kesulitan yang tampak dari kecocokan mimik dan reaksi yang dibuatnya.


Chirella mengatakan perhatian bayi terhadap mimik wajah sedih adalah perilaku adaptif. Kemampuan untuk mengenali rasa sedih lalu memberikan reaksi memiliki implikasi evolusioner.

"Untuk bisa berfungsi penuh di dunia sosial, mereka perlu mengembangkan kemampuan untuk memahami perilaku orang lain dengan menduga apa yang terjadi di antara mereka," ucap dia.

Mulai usia 15 bulan, bayi mulai mempelajari kondisi seseorang dan ekspresi yang mengikutinya. Efeknya adalah orang-orang dekat si bayi, termasuk orang tua atau pengasuh, tak bisa menyembunyikan perasaan sedih mereka dengan memasang sikap ceria. Penelitian itu menunjukkan bayi tidak bisa diperdaya untuk mempercayai sesuatu yang ditutupi dengan gaya gembira.

Kini para peneliti tengah melakukan studi apakah perilaku bayi yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang tidak bisa dipercaya secara emosional bakal mempengaruhi kesediaan mereka untuk menolong atau belajar dari orang-orang tersebut.


Sumber :
tempo.co

Mimpi-mimpi Seperti Ini Bisa Menunjukkan Kondisi Kesehatan Anda

Mimpi-mimpi Seperti Ini Bisa Menunjukkan Kondisi Kesehatan Anda
Semua orang pasti pernah bermimpi saat tidur, baik mimpi indah maupun mimpi buruk. Ada banyak cara untuk menafsirkan mimpi, misalnya terkait dengan peruntungan. Secara medis, bisa punya menunjukkan status kesehatan.

Diperkirakan, manusia mengalami mengalami 4-6 mimpi dalam semalam. Namun dari sekian banyak mimpi, hanya sekitar 2-3 yang bisa diingat saat bangun tidur. Dibanding laki-laki, perempuan lebih banyak mengingat mimpi.

Beberapa penelitian mengaitkan jenis-jenis mimpi dengan status kesehatan seperti dikutip dari Daily Mail.


1. Mimpi buruk


Kemungkinan penyebab mimpi buruk adalah pemakaian obat-obat jantung dan tekanan darah tinggi golongan beta blocker, gangguan migrain, maupun kurang tidur. Obat-obat golongan beta blocker diyakini mengubah komposisi kimia otak sehingga memicu terjadinya mimpi buruk.

Lemah jantung juga sering memicu mimpi buruk saat tidur. Hal itu dibuktikan dalam penelitian pada 6.000 orang dan dipublikasikan di Netherland Journal of Medicine. Menurut penelitian ini, seseorang dengan denyut jantung tidak teratur akan mengalami peningkatan risiko mimpi buruk sebanyak 3 kali lipat.

Kemungkinan penyebab lainnya adalah gangguan pernapasan. Berkurangnya pasokan oksigen ke otak memicu perubahan komposisi kimia yang menghadirkan mimpi buruk saat tidur.


2. Mimpi yang muncul lebih sering dari biasanya


Kemungkinan penyebabnya adalah temperatur udara yang terlalu dingin atau terlalu hangat di malam hari. Perubahan hormon, nyeri kronis dan pemakaian antidepresan juga bisa menyebabkan mimpi muncul lebih sering dari biasanya.

Prof Jim Horne, pakar kesehatan tidur dari Loughborough University membenarkan bahwa temperatur udara di malam hari bisa mengubah ritme bermimpi karena kenyamanan tidur terganggu.

"Makin sering tidurnya terganggu, makin besar pula kemungkinan terbangun tengah malam dan itu berarti lebih banyak mengingat mimpi," kata Prof Horne.

Prof Horne menambahkan, pengaruh hormon terhadap mimpi juga bisa diamati pada perempuan yang sedang datang bulan. Biasanya, rasa tidak nyaman membuat para perempuan mengalami gangguan tidur dan sering terbangun sehingga lebih banyak mengingat mimpi. Akibatnya, mimpinya seolah jadi lebih sering.


3. Mimpi diserang


Kemungkinan penyebabnya adalah gangguan pada saraf otak misalnya penyakit Alzheimer dan Parkinson. Kecenderungan untuk sering bermimpi buruk bahkan bisa muncul 10 tahun sebelum gejala Alzheimer muncul.

"Ini bisa menjadi gejala pertama yang kita lihat. Saya mengingatkan orang yang didiagnosis dengan gangguan ini untuk mengamati tanda lain misalnya gangguan saraf, tremor (gemetar) dan ingatan mudah lupa. Tujuannya agar bisa ditangani sejak dini," kata Prof Horne.


4. Mimpi yang membuat orang sering terbangun


Pola makan yang tidak sehat merupakan salah satu penyebab munculnya mimpi-mimpi yang membuat orang terbangun tengah malam. Makan makanan berlemak, mengalami kegemukan, dan makan karena stres bisa memkicu mimpi jenis ini.

Prof Horne mengatakan makan terlalu banyak apalagi yang berlemak, menyebabkan tekanan pada katup pembatas lambung dengan kerongkongan meningkat. Bila katup terbuka, asam lambung akan naik dan memicu rasa tidak nyaman hingga akhirnya orang tersebut terbangun.


5. Mimpi aneh dan tak terlupakan


Konsumsi alkohol, infeksi, menopause dan penggunaan obat anti malaria bisa memicu mimpi jenis ini. Mimpi-mimpi tak wajar yang terus tergiang-ngiang dalam ingatan saat terbangun dar tidur.

"Cuaca tidak menyenangkan juga bisa menyebabkan kondisi setengah tidur dan setengah bangun, yang memicu mimpi-mimpi aneh," kata Dr Patrick McNamara, ahli saraf dari Boston University Medical School.

Obat malaria sering memicu mimpi aneh karena menganggu pelepasan senyawa asetilkolin di otak. Senyawa tersebut berhubungan dengan kemampuan mengontrol mimpi, sehingga mimpi menjadi aneh-aneh saat kadarnya berkurang.


6. Mimpi erotis


Mimpi tentang hal-hal berbau seksual merupakan hal yang wajar di semua usia, dan meningkat saat beranjak tua. Bahkan sampai usia 60-an tahun, mimpi erotis masih sering muncul dalam tidur.

"Banyak klien kami di usia 60-70 tahun masih mengalami mimpi erotis. Yang mengejutkan, mimpi tersebut tidak benar-benar berhubungan dengan kehidupan seksualnya, tapi justru terkait dengan kreativitasnya," kata seorang psikolog, Ian Wallace.


Sumber :
detik.com

Inilah yang Terjadi Pada Tubuh Sesaat Setelah Meminum Soda

Inilah yang Terjadi Pada Tubuh Sesaat Setelah Meminum Soda
Meminum sekaleng minuman bersoda di siang hari benar-benar menggiurkan. Rasa dahaga segera berganti dengan kesegaran. Namun, tahukah Anda, apa yang terjadi di dalam tubuh saat soda masuk ke dalamnya? Berikut ini ulasannya, seperti dilansir laman Daily Health Post.


10 Menit Pertama
Kandungan gula yang mencapai 10 sendok teh akan segera masuk ke dalam sistem tubuh. Kita memang tidak akan muntah karena rasa manis yang luar biasa. Pasalnya, asam fosfat yang terkandung di dalamnya akan memotong rasa itu.

20 Menit
Kadar gula dalam tubuh akan naik yang akhirnya menaikkan kadar insulin. Hati kita akan mengatasinya dengan mengubah gula tersebut menjadi lemak.

40 Menit
Penyerapan kafein selesai. Tekanan darah akan meningkat. Hati akan merespons dengan mengalirkan gula ke dalam aliran darah. Kantuk akan hilang akibat reseptor adenosis di otak terblokir.

45 Menit
Tubuh mulai merangsang dopamin yang merangsang pusat kesenangan di otak. Cara kerjanya sama seperti heroin.

Lebih dari 60 Menit
Asam fosfat akan mengikat kalsium, magnesium, dan seng dalam usus bagian bawah. Hal ini akan meningkatkan metabolisme tubuh secara signifikan. Dan parahnya, dosis tinggi gula dan pemanis buatan juga akan meningkatkan eksresi kalsium.

Selain itu, sifat diuretik dari kafein muncul. Kita akan merasa ingin buang air kecil. Ditambah lagi, kadar gula yang mulai meninggi akan membuat kita mudah marah dan menjadi lamban.


Sumber :
tempo.co

Bagi Antechinus, "Pesta Seks" adalah Perayaan Sebelum Kematian

Mamalia golongan Antechinus, golongan masurpial yang menyerupai tikus, diketahui memiliki perilaku seks yang "gila" sekaligus mematikan.

Hasil studi terbaru menemukan, pejantan golongan ini bisa menghabiskan waktu 14 jam tanpa henti untuk mengawini sebanyak mungkin betina.


Perilaku seks yang mencengangkan itu bisa berlangsung selama dua minggu sebelum akhirnya pejantan itu kelelahan, sakit-sakitan, dan akhirnya mati.

"Pejantan yang kasihan. Anda harus mengasihaninya," kata Diana Fisher, fellow di University of Queensland yang memimpin penelitian tentang perilaku seks Anthechinus.

Antechinus punya umur sekitar satu tahun. Namun, mereka baru aktif kawin dalam dua minggu terakhir sebelum kematiannya.

Fisher dalam penelitiannya membiakkan Antechinus. Setelah dua minggu masa kawin, ia menjumpai bahwa hampir semua pejantan spesies itu mati.


Diberitakan Daily Mail, ia mengungkap, perilaku seks Antechinus dipengaruhi oleh cara produksi spermanya.

"Mereka memproduksi sperma hingga memiliki testis yang sangat besar. Antechinus hanya memproduksi sedikit sperma dan hanya sekali seumur hidupnya," kata Fisher.

"Mereka kemudian (harus) mencari betina sebanyak mungkin sebelum secara alami kehilangan sperma. Bahkan kencing pun bisa membuat mereka kehilangan sperma," imbuhnya.

Menurut Fisher, mereka yang mati sebenarnya adalah mereka yang beruntung karena sudah memanfaatkan kesempatan untuk meneruskan gennya.

Secara fisiologis, perilaku seks Antechinus juga didukung oleh hormon testosteron yang membuat fauna pemakan invertebrata itu tetap terjaga dan siap sedia berhubungan seksual.

Karena testosteron dan hormon yang memengaruhi stres pula, selama musim kawin, spesies ini jarang sekali tidur. Saat itu, hidup hanya untuk seks.


Seks pada Antechinus juga sangat liar. Selain terus berganti pasangan, seks pada spesies itu juga melibatkan gigitan dan cakaran.

Meski dalam sudut pandang manusia, seks pada jenis itu merugikan betina karena pejantan tak setia; dari sudut pandang betina Antechinus sendiri, perilaku seks itu menguntungkan.

Kompetisi antar-pejantan pada spesies itu membuat betina punya peluang besar untuk bisa hamil.

Masa kawin yang liar pada spesies ini hanya berlangsung singkat. Setelahnya, hewan itu rapuh dan tinggal menunggu ajal.

Setelah masa kawin, Antechinus banyak kehilangan bulunya, mengalami infeksi, dan pendarahan pada organ dalam. Akhirnya, mereka mati.

Perilaku seks yang sama telah dijumpai pada 12 sub-spesies Antechinus, termasuk Antechinus agilis, Antechinus subtropis, dan Antechinus berkaki kuning.

Perilaku seks pada spesies itu sering disebut "reproduksi bunuh diri". Perilaku itu banyak dijumpai pada serangga, tetapi sebelumnya jarang dijumpai pada mamalia.


Sumber :
kompas.com

Dengan Protein ini Manusia Tak Lagi Butuh GPS

Tanpa disadari, manusia sebenarnya bisa melihat medan magnet bumi karena adanya suatu senyawa dalam mata. Ada kemungkinan, nenek moyang manusia dulu punya kemampuan tersebut. 

Sebuah studi menunjukkan bahwa ada kemungkinan protein bernama cryptochrome terdapat pada retina. Protein tersebut banyak didapati pada hewan dan tumbuhan sehingga beberapa spesies bisa menggunakan medan magnet bumi untuk melakukan navigasi.

Elektron dalam molekul cryptochrome saling terkait. Medan magnet bumi menyebabkan elektron bergoyang. Reaksi kimiawi untuk merespons goyangnya elektron tersebut membuat burung dapat melihat medan maget dalam warna-warni. 

Para peneliti sebelumnya mengira cryptochrome tidak memiliki banyak keuntungan bagi manusia sehingga tidak dapat mengenali medan magnet seperti burung. Karenanya, manusia butuh patokan atau perangkat GPS untuk mengetahui arah.

Sangkaan ini yang sepertinya harus diubah setelah para ahli saraf dari University of Massachusetts melakukan penelitian. Mereka mengambil cryptochrome dari manusia dan memberikannya pada lalat buah yang kehilangan kemampuan melihat medan magnet. Hasilnya, seperti dilaporkan Wired Science, lalat buah kembali memiliki kemampuan melihat medan magnet. Sayangnya pada manusia, cara kerja cryptochrome tidak seperti pada lalat. 

"Kami tidak tahu apakah kerja molekul itu sama pada retina manusia. Tapi kemungkinan itu ada," kata Steven Reppert, ahli saraf dari University of Massachusetts.

Saat ini ilmuwan mengetahui bahwa cryptochrome pada manusia berfungsi sebagai jam molekul, bukan sebagai kompas. Tapi para peneliti menduga bahwa nenek moyang manusia terbantu dengan adanya protein tersebut untuk menentukan arah. Jika suatu saat para peneliti berhasil mengembalikan kemampuan tersebut... selamat tinggal perangkat GPS.


Sumber:
forumsains

Seperti Manusia, Ternyata Simpanse Juga Pilih-pilih Dalam Berteman

Seperti Manusia, Ternyata Simpanse Juga Pilih-pilih Dalam Berteman
Simpanse disebut-sebut sebagai spesies terdekat dan memiliki banyak ciri-ciri perilaku manusia. Tampaknya simpanse pun memilih teman mereka dengan cara yang sama seperti manusia.

Para ilmuwan dari universitas di Zurich dan Wina menemukan, seperti manusia, simpanse cenderung untuk berteman dengan sesamanya yang memiliki paling banyak kesamaan. Temuan para peneliti itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Evolution and Human Behaviour yang mengungkapkan bahwa simpanse memilih teman-teman mereka berdasarkan pada kondisi perilaku dan emosional mereka.


Para ilmuwan mengamati 40 primata itu dalam dua kebun binatang. Lalu memantau dengan siapa mereka membentuk ikatan, dengan siapa mereka cenderung duduk bersama, dan jenis kepribadian yang mereka miliki.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa simpanse yang suka bersosialisasi cenderung berteman dengan simpanse serupa. Sedangkan simpanse yang kurang bersosialisasi cenderung untuk bersatu dengan yang serupa.

Temuan itu mencerminkan "efek kesamaan" yang dikenal pada manusia. Jorg Massen, dari University of Vienna mengatakan, "Para peneliti menemukan bahwa individu yang paling ramah dan berani suka ditemani mereka yang sangat ramah dan berani lainnya. Sedangkan yang pemalu dan kurang bersosialisasi menghabiskan waktu dengan simpanse penyendiri dan pemalu lainnya," ujarnya sebagaimana dikutip Dailymail.


Sonja Koski dari University of Zurich mengatakan kepada Discovery News bahwa kelompok-kelompok simpanse terdiri dari banyak jantan dan betina, dan setiap individu berteman secara kooperatif.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa preferensi untuk membentuk persahabatan dengan individu seperti diri mereka ini hadir pada nenek moyang simpanse dan manusia. Penelitian sebelumnya pada primata lain, seperti babon, menunjukkan hasil yang sama," ujarnya.


Sumber :
dailymail.co.uk / tempo.co

Klaim Peneliti, Bigfoot Sebagai Makhluk "Setengah Manusia"

Klaim Peneliti, Bigfoot Sebagai Makhluk "Setengah Manusia"
Kaum yang meyakini adanya bigfoot mengklaim telah menemukan bukti ilmiah dari makhluk tersebut.

Studi DNA selama lima tahun dalam Sasquatch Genome Project bersama rangkaian foto dan video menunjukkan bahwa bigfoot yang jejaknya pernah diklaim ditemukan di Sumatera memang benar-benar ada.


Anggota tim peneliti mengungkap hasil penelitian terbaru dalam pertemuan di Dallas. Mereka mengatakan, bigfoot adalah kerabat manusia yang eksis 15.000 tahun lalu.

"Kami ingin orang memahami bahwa ini serius. Orang telah memilih untuk tidak memercayainya. Mereka tidak dapat menyadari bahwa makhluk ini memang benar-benar ada," kata Melba Ketchum, pakar genetika yang memimpin riset, seperti dikutip IBTimes.

Studi selama lima tahun itu dibiayai oleh seorang pebisnis bernama Adrian Erickson. Biaya yang dihabiskan 500.000 dollar AS. Ketchum dan timnya berhasil mengurai genom sampel yang diyakini bigfoot dan mengungkap bahwa makhluk itu adalah hibrid manusia.

"Studi kami telah mengurai 20 genom mitokondria secara keseluruhan dan menggunakan teknologi penguraian lanjut untuk mendapatkan 3 genom inti dari sampel yang diyakini bigfoot," demikian pernyataan peneliti.

"Penguraian genom menunjukkan bahwa DNA mitokondria Sasquatch identik dengan Homo sapiens. Namun DNA inti Sasquatch berbeda, terkait manusia Homo sapiens dan primata lain," lanjut peneliti dalam rilisnya.

Tim peneliti menggunakan 111 spesimen yang didapatkan dari rambut, darah, kulit, dan jaringan lain dari sampel yang diduga bigfoot.

Ketchum adalah seorang profesor veteriner. Ia awalnya skeptis tentang bigfoot. Namun, dalam penelitian, ia menjumpai fakta bahwa bigfoot memang berbeda.

"Makhluk ini tak mengikuti aturan umum. Sangat berbeda. Kami berpikir dia hibrid manusia. Itu teori kita," katanya.

Menurut Ketchum, pemerintah harus mengakui bigfoot seperti sekelompok masyarakat adat, melindunginya dari pihak-pihak yang mengancam, menjebak atau ingin membunuhnya.


Sumber :
sains.kompas.com

Wuih, Otak ini Benar-benar Aneh

Ada sebuah otak paling aneh yang kini jadi koleksi University of Texas, Austin, Amerika Serikat. Pasalnya, otak ini tidak memiliki tonjolan dan lipatan yang menjadi karakteristik umum otak manusia.

Seperti dikutip dari New Scientist,  otak itu adalah milik seseorang yang tinggal di wilayah yang kini merupakan North Texas State University. Seseorang itu, yang tak secara gamblang dinyatakan jenis kelaminnya, meninggal tahun 1970.

 
Di University of Texas, otak koleksi ini disimpan dalam sebuah guci, diberi nomor seri, tetapi microfilm yang menyimpan rekam medis pemilik otak tersebut hilang. Fotografer Adam Voorhes menghabiskan waktu setahun untuk menggali informasi tentang otak itu dan sekitar 100 otak lain koleksi University of Texas, Austin.


Diketahui, pada guci tempat menyimpan otak itu terdapat keterangan bahwa pemiliknya mengalami agyria, tidak memiliki gyri dan sulci atau tonjolan dan lipatan yang umumnya terdapat pada bagian cerebral cortex yang normal.

Kondisi langka tersebut disebut juga lissencephaly. Seseorang yang mengalami kondisi itu biasanya meninggal sebelum usia 10 tahun. Biasanya, penderita kelainan itu mengalami kekejangan dan kesulitan dalam mempelajari sesuatu.

David Dexter dari Brain Bank di Imperial College London mengatakan bahwa dirinya tak pernah melihat otak seperti yang dipotret Voorhes.

"Kita memang mengetahui adanya otak di mana bagian suci hilang, tetapi tak ada lagi yang bisa dijelaskan lebih jauh tentang otak ini," katanya.

Meskipun demikian, ia tak heran jika pemilik otak ini bisa bertahan hingga usia dewasa karena otak memang sangat adaptif. Namun, Dexter menduga bahwa kelainan otak itu tetap memiliki efek buruk.

Awal tahun 2013, University of Texas melakukan pemindaian dengan magnetic resonance imaging (MRI) pada otak ini. Walau beberapa informasi tentang otak ini didapatkan, tetapi informasi tentang individu pemiliknya sepertinya akan sulit ditemukan alias hilang selamanya.



















Sumber:
kompas.