Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan

Gerhana Matahari "Hibrid", Bagaimana Bisa Terjadi?

Gerhana Matahari "Hibrid", Bagaimana Bisa Terjadi?
Gerhana Matahari "hibrid" yang terjadi pada Minggu (3/11/2013) merupakan gerhana Matahari langka, terakhir terjadi pada tahun 2005, kemudian hari ini, dan baru akan terjadi lagi pada tahun 2023.


Gerhana Matahari sabit sebagai bagian dari Gerhana Matahari hibrid
yang diabadikan di Juba, Sudan, Minggu (3/11/2013) | Goran Tomasevic/Reuters

Gerhana Matahari hibrid didefinisikan sebagai gerhana matahari cincin dan gerhana matahari total yang terjadi pada satu waktu fenomena gerhana secara berurutan. Fenomena ini lain dari biasanya, dimana dalam satu fenomena gerhana, hanya ada satu macam gerhana Matahari.


Bagaimana sesungguhnya gerhana Matahari hibrid bisa terjadi?


Gerhana Matahari total sebagai bagian dari gerhana Matahari hibrid pada Minggu (3/11/2013),
diabadikan dari wilayah Atlantik | Ben Cooper

Pada prinsipnya, gerhana Matahari hibrid bisa terjadi karena jarak antara Bulan dan Bumi yang bervariasi pada setiap titik wilayah Bumi. Sebab, perbedaan jarak adalah karena bentuk Bumi yang bulat serta orbit Bulan yang berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna.

Gerhana Matahari hibrid biasanya dimulai dengan fenomena gerhana Matahari cincin, diikuti dengan total dan kembali gerhana Matahari cincin. Gerhana Matahari hibrid kali ini unik karena dimulai dengan gerhana Matahari cincin dan berakhir dengan total.

Untuk memahami bagaimana gerhana Matahari hibrid bisa terjadi, bisa dilihat pada gambar di bawah ini.


Permulaan proses gerhana Matahari hibrid, jarak antara Bumi dan Bulan relatif jauh sehingga umbra tidak mencapai Bumi. Akibatnya, terjadi gerhana Matahari cincin di wilayah perpanjangan umbra (antumbra).

Tampak pada gambar di atas bahwa jarak antara Bumi dan Bulan relatif jauh. Akibatnya, umbra (bayang-bayang Bulan) tidak mencapai wilayah Bumi. Muncul kemudian wilayah yang disebut antumbra. Wilayah Bumi yang masuk dalam antumbra akan melihat gerhana Matahari cincin.

Sementara itu, Bulan terus bergerak. Akhirnya, Bulan sampai pada jarak yang lebih dekat dengan Bumi. Jarak yang lebih dekat memungkinkan bayangan umbra Bulan mencapai wilayah Bumi.

Terjadilah kemudian gerhana Matahari total di wilayah yang tercakup umbra serta gerhana Matahari sebagian di wilayah sekitarnya. Gambar di bawah menunjukkannya.


Pada proses gerhana Matahari hibrid selanjutnya, Bulan mencapai jarak yang lebih dekat dengan Bumi sehingga umbra mencapai Bumi. Wilayah tempat jatuhnya umbra akan mengalami gerhana Matahari total.

Dalam peristiwa gerhana Matahari hibrid, gerhana Matahari total hanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Pada tahun 2005, seperti dijelaskan dalam situs hermit.org, gerhana Matahari total hanya terjadi selama 42 detik dan cuma mencakup wilayah selebar 27 km.

Selama kurun waktu tahun 1986 hingga 2067, fenomena ini hanya akan terjadi sembilan kali. Setelah kali ini, gerhana Matahari hibrid akan terjadi pada 20 April 2023.

Namun untuk bisa dilihat dengan jelas di wilayah Indonesia, kita harus menunggu hingga gerhana matahari berikutnya pada 25 November 2049. Ya, 36 tahun lagi!


Sumber :
kompas.com

Identitas Hantu Luar Angkasa Sudah Ketahuan

Beberapa waktu lalu astronom sempat dikejutkan penampakan seperti hantu yang terlihat dari Teleskop Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA). Penuh penasaran, mereka mempelajari sosok hantu tersebut.

Kini akhirnya ketahuan juga sumbernya. Ternyata hantu tersebut hanyalah Nebula, atau awan antarbintang yang terdiri dari debu, gas, dan plasma.

 


Nebula ini dinamakan Nebula Boomerang, yang terkenal sebagai obyek terdingin di alam semesta. Suhunya mencapai minus 458 derajat Fahrenheit. Menarik, karena sangat dingin maka ujudnya bisa berubah-ubah seperti keterangan Raghvendra Sahai, peneliti utama di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California, AS, "Obyek yang amat dingin itu sangat menarik untuk dipelajari, karena bentuknya dapat berubah-ubah. Dari berbentuk mirip hantu, kupu-kupu, dan lainnya."

Nebula Boomerang pertama kali terlihat pada tahun 2003 dengan teleskop Hubble. Ketika itu bentuknya seperti jam pasir. Tapi, belakangan objek itu terlihat oleh telekop ALMA lebih mirip seperti hantu.

"Di dalam nebula itu terdapat bintang kerdil putih yang memancarkan radiasi ultraviolet yang kuat, sehingga menyebabkan gas di nebula memancarkan cahaya yang terang. Selain itu, suhu dingin di dalam nebula juga menyebabkan bentuk awannya terus beruhab-ubah," jelas Sahai.

Tim astronom juga menemukan posisi Nebula Boomerang terletak pada konstelasi Centaurus yang jaraknya 5.000 tahun cahaya dari Bumi.

Saat ini, tim astronom sedang meneliti lebih lanjut dengan keberadaan nebula-nebula lain di ruang angkasa dengan menggunakan teleskop Alma. Sebab, beberapa kali teleskop ALMA mendapati perubahan bentuk dari bintang mati menjadi sebuah nebula.

"Kami cukup beruntung sudah memiliki teleskop ALMA yang merupakan teleskop paling canggih di dunia. Teleskop ini mampu mengamati terbentuknya alam semesta, seperti melihat bagaimana bintang dan planet tercipta," pungkas Sahai.










 











Sumber:
viva


Ditemukan Galaksi yang Bisa Berfungsi Sebagai Kaca Pembesar Super Raksasa

Secara kebetulan teleskop Hubble berhasil menangkap sebuah obyek yang disebut J1000+0221 yang merupakan sebuah lensa gravitasi dari sebuah galaksi yang terletak 9 miliar tahun cahaya dari Bumi.

Foto yang diambil oleh teleskop Hubble tersebut sebenarnya foto dari dua buah galaksi. Galaksi yang letaknya lebih dekat adalah galaksi yang menciptakan efek lensa (seperti kaca pembesar) yang memperjelas tampilan dari galaksi yang berada sejalan dengannya namun lebih jauh lagi jaraknya.


Obyek yang disebut J1000+0221 yang sebenarnya merupakan sebuah galaksi
dengan gravitasi super besar. Image credit: NASA/ESA/A. van der Wel


Ilmuwan NASA menyebut fenomena ini sebagai lensa gravitasi dan pertama kalinya fenomena ini diteorikan oleh fisikawan terkenal dunia, Albert Einstein.

"Penemuan ini benar-benar secara kebetulan," ungkap Arjen van der Wel dari Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman.

Tingkat keselarasan obyek J1000+0221 dengan galaksi dibelakangnya sangat sempurna sehingga bisa terbentuk "cincin" di sekitar obyek. Ilmuwan mengatakan bahwa hal ini sangatlah jarang dan mereka merasa begitu beruntung melihat fenomena ini.

Lebih jauh ilmuwan mengungkapkan bahwa galaksi yang ada di belakang obyek J1000+0221 diperbesar 22 kali lipat oleh lensa gravitasi tersebut. Berikut adalah prinsip kerja bagaimana fenomena itu ada dan diamati oleh teleskop Hubble.


Prinsip kerja dari pengamatan obyek J1000+0221.
Image credit: ALMA (ESO/NRAO/NAOJ), L. Cal�ada (ESO), Y. Hezaveh


Diperkirakan galaksi lensa memiliki tingkat pembentukkan bintang yang sangat banyak sehingga mampu menciptakan gravitasi yang mampu berfungsi seperti kaca pembesar.

"Ini adalah penemuan yang aneh dan menarik, dan itu benar-benar kebetulan. Ini akan menjadi bab baru dalam pengertian kita tentang evolusi galaksi di alam semesta pada masa lalu," tambah Arjen van der Wel.


Sumber :
astronomi.us

Ilmuwan Temukan Bukti Kiamat dalam Sistem Planet

 Ilmuwan Temukan Bukti Kiamat dalam Sistem Planet
Bukti apocalypse (kiamat) dalam sistem planet ditemukan oleh astronom yang mempelajari bintang mati di luar angkasa. Sisa-sisa kehancuran dari asteroid mengandung air menunjukkan bahwa ratusan juta tahun lalu, kemungkinan terdapat planet yang bisa dihuni mirip Bumi.

Dilansir Theage, kehancuran sistem planet ditandakan dengan meledaknya bintang, kemudian bintang tersebut runtuh menjadi 'white dwarf'. Ilmuwan percaya, kehidupan asing di luar sana juga memiliki peradaban cerdas seperti kehidupan manusia saat ini.


Bintang white dwarf atau kerdil putih yang diteliti ini diberi kode nama GD 61. Bintang tersebut ditakdirkan untuk mengakhiri hidupnya terlebih dahulu dengan melakukan ekspansi ke Red Giant, kemudian menumpahkan lapisan luarnya  serta menjadi bara api yang menyala dengan diameter hanya beberapa ribu kilometer.

Matahari dalam kondisi 'sekarat' itu kabarnya akan memancarkan apa yang tersisa dari kemampuan mengeluarkan panasnya selama miliaran tahun. Kemudian, matahari atau bintang tersebut mati dengan suhu yang kian rendah atau dingin, disebut 'black dwarf' (kerdil hitam).

Astronom mempelajari cahaya yang dipancarkan oleh GD 61 yang terletak 150 tahun cahaya dari Bumi. Astronom juga menemukan elemen batuan seperti besi, silikon dan magnesium serta oksigen dalam kuantitas yang menunjukkan jumlah air yang sangat besar.

Peneliti mengungkapkan, hanya asteroid besar yang memiliki kandungan air yang dapat memberikan informasi seputar observasi yang dilakukan ilmuwan. Batu raksasa yang memiliki diameter 90 kilometer bisa ditarik oleh gravitasi kuat bintang kerdil putih tersebut dan hancur berkeping-keping.

"Temuan air dalam asteroid besar berarti menunjukkan blok bangunan planet layak huni itu ada, dan mungkin masih ada dalam sistem GD 61," tutur Jay Farihi, Institute of Astronomy at Cambridge University. Para astronom melakukan observasi menggunakan Hubble Space Telescope dan teleskop besar Keck di Hawaii.


Sumber :
okezone.com

Siap-Siap Panen Berlian di Atmosfer Jupiter dan Saturnus

Ilmuwan planet, Mona L. Delitsky dari California Specialty Engineering dan Kevin Baines dari University of Wisconsin-Madison, baru-baru ini menyimpulkan bahwa di atmosfer planet Jupiter dan Saturnus terdapat banyak sekali berlian.

Berlian itu merupakan hasil dari unsur karbon berupa grafit yang terbentuk dari badai petir yang pernah terjadi di planet tersebut.


Ilustrasi robot pengumpul berlian dalam buku Alien Seas. Image credit: Alien Seas

Tekanan dan suhu yang ekstrem khususnya di bagian bawah atmosfer, merubah berlian yang tadinya padat kemudian berubah wujud menjadi cair, sehingga di kedua planet itu bisa terjadi hujan berlian. Awalnya belian itu berwujud padat saat baru terbentuk dan jatuh dari bagian atas atmosfer dan semakin mendekati inti planet berlian itu pun mencair.

Sebelumnya para ilmuwan menduga bahwa berlian dalam bentuk padat mungkin ada dekat inti kedua planet itu. Namun kemudian mereka berpendapat bahwa hal itu tidak mungkin sebab planet Jupiter dan Saturnus dianggap terlalu panas yang dapat melelehkan berlian. Jadi kesimpulannya berlian berwujud padat ada di bagian atas atmosfer.

Ilmuwan planet Moda Delitsky dan Kevin Baines dalam buku mereka yang berjudul Alien Seas mereka menceritakan bahwa suatu saat nanti manusia akan membuat robot yang mampu mengumpulkan berlian dari Jupiter dan Saturnus untuk kemudian dibawa menuju ke Bumi.



Berlian. Image credit: rimanews

Secara ilmiah proses terbentuknya berlian di kedua planet itu masih belum diketahui secara detail. Tapi di Bumi berlian terbentuk secara alami ketika karbon terpendam jauh di dalam tanah sekitar 160 km kemudian tertekan oleh panas hingga 1.093 derajat Celcius dan mengalami tekanan 725.000 pound perinci persegi yang kemudian bersamaan dengan magma bergerak ke permukaan untuk kemudian mendingin dan terbentuklah berlian.

Ketika berlian sudah begitu melimpah di alam semesta kemungkinan harganya juga akan turun dan tidak akan terlalu berharga lagi.


Sumber :
astronomi.us

Batu Asteroid Gelap Teror Penduduk Bumi?

Batu Asteroid Gelap Teror Penduduk Bumi?
Masih ingat dengan bola api besar yang jatuh di Pegunungan Ural, Rusia, tanggal 15 Februari lalu? Kemunculan meteor yang dikenal dengan sebutan 'Meteor Chelyabinsk' itu tiba-tiba, tidak terdeteksi, sehingga minim upaya antisipasi. Mengapa?


Batu meteorid yang menghantam Chelyabinsk, wilayah Pegunungan Ural, Rusia. (Telegraph)


Belakangan diketahui, meteor yang jatuh di Rusia itu terbentuk dari materi batuan yang sulit untuk dilihat atau "Asteroid Gelap," dilansir Telegraph.

Bebatuan asteroid gelap diperkiran terbentuk setelah menderita dampak tabrakan besar dengan asteroid lain di masa lalu. Akibatnya, seluruh bagian mineral, logam, dan silikat mencair sehingga asteroid berubah menjadi warna hitam pekat.

Dr Thomas Kohout dari University of Helsinki, Finlandia, bersama dengan Dr Maria Gritsevich dari Finnish Geodetic Institute dan Russian Academy of Science, menemukan fragmen meteor yang menghantam Rusia terbuat dari chondrites, batuan non logam yang terbentuk dari peleburan di batuan induk.

"Dua pertiga dari meteor itu berisi chondrite berwarna abu-abu, sementara sisanya adalah chondrite warna hitam. Itu artinya bagian warna hitam adalah sisa tabrakan dari awal sejarah terbentuknya asteroid," jelas Kohout.

Lebih lanjut, dia mengatakan meteor Chelyabinsk merupakan fragmen dari asteroid-asteroid yang bertabrakan di awal terbentuknya Tata Surya 4,6 miliar tahun lalu dan tidak berubah warna gelapnya sampai saat ini.

"Warna meteor yang gelap itu adalah penyebab mengapa tidak terdeteksi oleh badan antariksa manapun, sehingga kita sangat terkejut ketika benda angkasa itu menyala di atmosfer lalu meluncur ke Bumi," ujarnya.

Kohout bersama peneliti lain berharap agar lebih mempelajari meteor-meteor yang berasal dari asteroid gelap, sehingga bisa terdeteksi dan dilacak keberadaannya di masa mendatang.

Meteor yang tampak di atas langit Chelyabinsk, Ural, Rusia, Februari 2013 lalu.

Saat ini, Program Objek Dekat Bumi milik NASA berhasil melacak 10.303 asteroid dan 1.425 di antaranya diklasifikasikan sebagai asteroid yang berpotensi berbahaya bagi Bumi.

"Kebanyakan asteroid dilacak dengan menggunakan radar yang mengandalkan cahaya. Namun, asteroid gelap sangat sulit terdeteksi saat berada di lingkungan yang minim cahaya," jelas Kohout.

Kohout dan Gritsevich sudah mempresentasikan temuannya di American Astronomical Society Division for Planetary Sciences, di Denver, Colorado, AS. Temuan itu dapat membantu untuk melacak asteroid gelap yang sangat berbahaya bagi Bumi.

"Penduduk di Rusia beruntung, meteor Chelyabinsk yang berasal dari asteroid gelap sebagian besarnya telah hancur terbakar di atmosfer Bumi. Tapi, masih banyak asteroid gelap yang mengintai di Tata Surya dan sewaktu-waktu bisa jatuh ke Bumi," tutup Kohout.


Sumber :
viva.co.id

Ayo Saksikan Hujan Meteor Malam ini

Kemarin lupa melihat langit? Masih ada kesempatan. Siap-siap berburu hujan meteor Draconid setelah magrib. Kalau Anda penggemar dunia astromi, jangan lewatkan fenomena astronomi tersebut karena tahun ini akan terlihat lebih terang. Catat waktunya, 8-9 Oktober pukul 18:00 hingga 22:00 WIB.

Sinar lampu kota sering jadi penghalang. Untuk mengoptimalkan penglihatan, sebaiknya Anda pergi ke tempat yang minim cahaya lampu, dan biarkan mata beradaptasi dengan kegelapan selama 20 menit.

 
space.com

Hujan meteor Draconid berasal dari sisa-sisa debu komet Giacobini-Zinner yang berada di konstelasi Draco dan Naga. Pada Oktober ini, komet Giacobini-Zinner tidak akan meninggalkan sisa debu dan es yang banyak ke Bumi.

Dua tahun lalu, Oktober 2011, tercatat ada 600 meteor per jam hingga jadi fenomena hujan meteor Draconid yang paling menarik. Konon, cahaya silau yang dihasilkannya hampir bisa dilihat oleh orang-orang di wilayah Eropa.

Pastinya, untuk bisa melihat pertunjukan alam nan indah ini perlu lokasi yang tepat. Selain tak terganggu bias cahaya penerangan kota atau pemukiman, syarat mutlak lainnya yakni cuaca yang cerah. Nah, semoga malam ini langit terang tanpa hujan.











 
 
 
 
Sumber:
viva

Begini Cara NASA Berkomunikasi dan Mengendalikan Robot Curiosity di Mars

Mungkin kita penasaran bagaimana cara NASA untuk berkomunikasi dan mengendalikan robot penjelajah Mars (Mars rover) seperti Spirit, Opportunity, dan Curiosity yang letaknya jutaan km jauhnya dari Bumi.

Jutaan km merupakan jarak yang sangat-sangat jauh dan sangat tidak bisa dibayangkan. Tapi sekali lagi, bagaimana cara NASA untuk menggerakkan robot-robot penjelajah itu?? Mari sama-sama kita cari tahu.

Robot penjelajah Mars, Curiosity. Image credit: astronaut


Sekali dalam sehari, gelombang radio dikirmkan oleh NASA dari ruang kontrol misi menuju ke robot penjelajah di Mars dan untuk sampai ke tujuan diperlukan waktu 13,8 menit agar gelombang radio itu bisa diterima robot penjelajah.

Para insinyur NASA bertukar pesan dengan Curiosity setiap hari pada waktu yang telah ditentukan. Untuk sekali berotasi, Mars membutuhkan waktu lebih lama 37 menit dari Bumi. Sehingga untuk menyetakan waktu satu hari di Mars, mereka menyebutnya dengan "sol".

Pada jam 10 pagi waktu Mars setelah Matahari melewati cakrawalanya dan robot penjelajah telah berada dalam keadaaan siap, NASA mengrimkan paket data berisi perintah kepada robot penjelajah.

Dalam hal ini robot penjelajahnya adalah Curiosity. Karena pagi di Mars tidak selalu bersamaan dengan pagi di Bumi, maka NASA menempatkan antena parabola raksasa di beberapa benua di dunia. Diantaranya di Gurun Mojave (California), Eropa (Spanyol) dan di Australia. Mereka menyebut kesemua sistem itu dengan istilah DSN (Deep Space Network).

Salah satu antena parabola DSN NASA di Gurun Mojave, California. Antena ini berdiameter 70 meter.
Image credit: silver-peak

Gelombang radio yang berisi paket perintah tadi dikirimkan dan berjalan selama 13,8 menit di luar angaksa sampai tiba dan diterima oleh Curiosity. Perintah yang diberikan tidak selalu harus bergerak atau berjalan, tapi perintah juga bisa berupa perintah menyekop, mengebor, mengambil sampel batuan, menganalisa sampel yang ada dan sebagainya. Cuiosity memiliki laboratorium mini yang memungkinkan untuk itu.

Sebelum nASA memerintahkan Curiosity untuk berjalan, terlebih dulu NASA membuat pencitraan berupa kondisi di sekitar rover dengan menggunakan kamera yang ada pada rover tersebut atau dengan mengambil citra dengan menggunakan wahana pengorbit seperti Mars Odyssey dan Mars Reconnaisance Orbiter.

Citra itu kemudian dibuat model tiga dimensinya untuk menggambarkan kondisi di sekitar rover jangan sampai rover itu melintas di daerah yang berbahaya. Sebab NASA pernah mengalami hal buruk dengan rover Spirit dimana rover itu pada tahun 2009 terjebak dalam lubang pasir sehingga misinya harus berakhir.

Ketika dirasa jalur yang akan dilalui aman, NASA mengirim perintah berisi koordinat kepada Curiosity dan memerintahkannya untuk menuju koordinat itu. Curiosity sebenarnya sudah memiliki "kecerdasan buatan" dimana ia mampu menentukan jalur yang menurutnya aman untuk dilalui.

Terkadang insinyur NASA juga baru akan memberikan Curiosity perintah dalam beberapa hari kemudian. Nah selama menunggu perintah, insinyur NASA terus berkomunikasi dengan Curiosity sembari memerintahkannya untuk berhenti, tetap tenang, dan terus menunggu komunikasi sampai waktu yang telah ditentukan.

Curiosity memiliki pemancar transmiter dengan diameter sekitar 30 cm dan daya yang digunakan tidak lebih dari 25 watt. Untuk mengirimkan data yang didapat Curiosity ke Bumi, Curiosity akan terlebih dulu mengirimkannya pada wahana pengorbit Mars Odyssey dan Mars Reconnaisance Orbiter yang terus menerus mengorbit planet merah.

Curiosity menunggu sampai wahana pengorbit melintas di atasnya sekitar pukul 3 sore dan 3 pagi waktu Mars. Data yang dikirmkan berupa foto, data ilmiah, dan sebagainya. Data yang bisa dikirim dalam sekali pengiriman bisa mencapai beberapa ratus megabit. Biasanya Curiosity mengumpulkan data itu selama satu minggu dan hanya sekali pengiriman dalam sehari semua data itu bisa di dapatkan.

Nah setelah tahu bagaimana cara kerjanya, maka bisa Anda bayangkan sendiri bagaimana NASA berkomunikasi dengan wahana yang lebih jauh seperti Voyager 1 dan 2 yang letaknya bermilyar-milyar km jauhnya dari Bumi. Luar Biasa . . .


Sumber :
astronomi.us